- Perkuat Jaminan Sosial Pekerja, Disperinaker Selayar Teken MoU dengan BPJS Ketenagakerjaan
- Kenapa Kopra Dilarang Masuk KMP Bontoharu? Ini Penjelasan Syahbandar dan Dinas Perhubungan
- Bukan Sekadar Imbauan, Bupati Selayar Perintahkan Disperinaker Buka Layanan Dico Ulang Tabung LPG Karatan
- Kemarau Panjang, Bumi Mengering, Warga Selayar Bersujud Memohon Rahmat Allah SWT
- Marak Tabung LPG 3 Kg Berkarat ditolak Agen/Pangkalan, Bupati Selayar Tegaskan Konsumen Tak Boleh Dirugikan
- Diskominfo-SP Perkuat SDI, Sekda Selayar Tegaskan Pentingnya Data Akurat
- Bupati Natsir Ali Kukuhkan Prof. Abdul Kadir sebagai Ketua DPP PERMAS Pusat, Bendera Pataka Jadi Simbol Amanah
- Kominfo Enrekang Dalami Strategi Pengelolaan PPID dan SP4N-LAPOR! Selayar
- Mari Berdoa Bersama, Pemkab Selayar Gelar Salat Istisqo untuk Memohon Hujan
- Wabup Muhtar Pantau Tiga APMS, Pelayanan dan Pasokan BBM Jadi Perhatian
Kemarau Panjang, Bumi Mengering, Warga Selayar Bersujud Memohon Rahmat Allah SWT

KEPULAUAN SELAYAR — Di tengah kemarau yang diperkirakan masih berlangsung cukup panjang dan meningkatnya kejadian kebakaran lahan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar bersama masyarakat menggelar dzikir, doa, dan Salat Istisqa sebagai ikhtiar memohon rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Kegiatan berlangsung khidmat di Lapangan Pemuda Benteng, Selasa pagi (8/9/2026), diikuti Bupati Kepulauan Selayar, Wakil Bupati, Sekda jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparatur pemerintah daerah, sejumlah pemangku kepentingan, serta ratusan umat Islam.

Baca Lainnya :
- Wagub Sulsel Peletakan Batu Pertama Pembangunan Mesjid Pesantren As Sunnah Selayar 0
- Bupati Natsir Ali Kukuhkan Prof. Abdul Kadir sebagai Ketua DPP PERMAS Pusat, Bendera Pataka Jadi Simbol Amanah0
- Wabup Kepulauan Selayar Lantik Pejabat Struktural Eselon II, dan IV0
- Selayar Butuh Konektivitas Kuat, Bupati Natsir Ali Usulkan Sejumlah Pembangunan Pelabuhan ke Pemerintah Pusat0
- Lima kali WTP berturut-turut, Bupati Basli Ali terima penghargaan Menteri Keuangan0
Rangkaian kegiatan diawali dengan dzikir kemudian dilanjutkan Salat Istisqa. Suasana berlangsung penuh kekhusyukan ketika jamaah bersama-sama menundukkan kepala dan memanjatkan doa, memohon agar Allah SWT menurunkan hujan, mengakhiri kekeringan, serta melindungi masyarakat Selayar dari berbagai musibah.
Salat Istisqa dipimpin Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kepulauan Selayar, H. Arfang Arif.
Dalam tausiyahnya, H. Arfang Arif mengajak masyarakat menjadikan kemarau sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, memperkuat ketakwaan, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Ia menggambarkan dampak kemarau yang mulai dirasakan masyarakat, mulai dari tanah yang mengering dan retak, pepohonan yang layu, berkurangnya sumber air hingga kondisi udara yang semakin gersang.
Menurutnya, keadaan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan pada akhirnya senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT.
“Ketika bumi merindukan tetesan air hujan, jiwa kita sebenarnya sedang haus akan siraman rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
H. Arfang menegaskan, Salat Istisqa tidak semestinya dipandang hanya sebagai ritual untuk meminta turunnya hujan. Lebih dari itu, pelaksanaannya harus menjadi momentum untuk bermuhasabah, memperbanyak istighfar dan kembali kepada Allah SWT melalui taubat yang tulus.
Ia mengingatkan kembali kisah Nabi Nuh AS sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an, tentang pentingnya istighfar sebagai bentuk permohonan ampun sekaligus ikhtiar mengharapkan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.
“Kunci utama untuk mendatangkan hujan, membuka pintu rezeki dan menghadirkan kelapangan hidup bukan hanya kekuatan teknologi atau kecerdasan manusia, tetapi juga istighfar dan taubat yang tulus,” katanya.
H. Arfang juga menyampaikan kisah Imam Hasan al-Basri rahimahullah yang memberikan nasihat kepada sejumlah orang dengan persoalan berbeda. Ketika ada yang mengeluhkan kemarau, kekurangan air maupun persoalan kehidupan, nasihat yang diberikan adalah memperbanyak istighfar.
Karena itu, ia mengajak masyarakat Selayar agar momentum Salat Istisqa tidak berhenti pada doa memohon hujan, tetapi dilanjutkan dengan upaya memperbaiki diri.
“Meminta hujan bukan sekadar mengangkat kedua tangan ke langit dalam Salat Istisqa, tetapi juga menundukkan jiwa yang sombong di hadapan Sang Maha Kuasa,” tuturnya
Ia pun mengajak umat memperbanyak istighfar, taubat dan doa, terutama pada waktu-waktu yang diyakini sebagai waktu mustajab.
Dikatakan, manusia tidak boleh memandang kemarau, musibah maupun tertahannya rezeki hanya sebagai fenomena alam semata. Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk senantiasa melakukan introspeksi dan menyadari bahwa setiap keadaan merupakan bagian dari ujian sekaligus pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Marilah kita jadikan momentum ini sebagai titik balik. Basahilah bibir kita dengan kalimat Astaghfirullahal ‘Adzim. Jika hati dan hari-hari kita telah dibasahi dengan air mata penyesalan dan taubat, semoga Allah tidak segan membasahi bumi kita dengan hujan rahmat-Nya,” pesannya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama. Ratusan jamaah menengadahkan tangan dengan penuh harap, memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan, mengakhiri kekeringan, menjauhkan Selayar dari bencana kebakaran, serta memberikan keselamatan, kesejukan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam menghadapi kondisi kemarau. Doa dan tawakkal tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan langkah-langkah nyata pemerintah dalam mengantisipasi dampak kekeringan, menjaga ketersediaan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
Di tengah keterbatasan manusia menghadapi perubahan alam, ikhtiar, doa dan tawakkal menjadi pengingat bahwa setiap usaha tetap harus disandarkan kepada Allah SWT.(HUMAS-IC)
.











.jpeg)